You are here
Home > Topics > Astrobiology > Astrobiologi, Sebuah Pengantar

Astrobiologi, Sebuah Pengantar


Representasi Kepler 62f, planet yang diduga berbatu dengan air yang mungkin dapat dihuni. Image credit: NASA Ames/JPL-CalTech

Astrobiologi (Astrobiology) adalah studi tentang asal-usul, evolusi, distribusi, dan masa depan kehidupan di alam semesta [1]. Astrobiologi dulunya juga sering dikenal sebagai exobiology, cabang biologi berkaitan dengan pencarian kehidupan di luar bumi dan dengan efek lingkungan luar angkasa pada organisme hidup. Istilah ini muncul pada tahun 1960[2], namun dua hal tersebut sedikit berbeda, yakni exobiologi adalah hubungan antara Astrobiologi dan eksplorasi luar angkasa[3]. Seperti yang dikatakan ahli biologi molekul –berubah menjadi– exobiologist, Joshua Lederberg dalam jurnal Science pada tahun 1960 bahwa, “Exobiologi tidak lebih fantastis daripada realisasi perjalanan ruang angkasa itu sendiri, dan kita memiliki tanggung jawab besar untuk mengeksplorasi implikasi untuk ilmu pengetahuan dan untuk kesejahteraan manusia dengan wawasan ilmiah dan pengetahuan yang terbaik.[3]

Bidang ilmu ini membutuhkan pemahaman terpadu dari berbagai disiplin ilmu yang mendukung, yakni biologi, planet, dan fenomena kosmik[1]. Astrobiologi meliputi pencarian lingkungan layak huni (inhabitable invironment) di tata surya kita dan planet di sekitar bintang lain; mencari bukti kimia prebiotik atau kehidupan pada tubuh Tata Surya seperti Mars, Europa bulan Jupiter, dan bulan Saturnus, Titan; dan penelitian asal-usul, evolusi awal, dan keragaman kehidupan di Bumi[1]. Bidang kajian Astrobiologi terus berkembang dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan pengetahuan dan hasil-hasil riset. Setidaknya untuk sekarang Astrobiologi meliputi 3 bahasan yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Darimana kehidupan berasal dan bagaimana berkembang? [4]
Sampai sekarang masih belum ditemukan bukti ilmiah bagaimana kehidupan muncul dan berkembang biak. Pengetahuan terbatas teori dan belum didukung reaksi atau relevansi yang nyata. Menurut Bruce Runnegar, kepala NASA Astrobiology Institute (NAI). “Semua orang ingin tahu dari mana kita berasal atau apakah kita tidak sendirian hidup di alam semesta ini.” Hal ini menjadi tantangan, sehingga peneliti terus mencari pada daerah-daerah ekstrim seperti lapisan gletser tua, dalam cairan lava yang sangat panas untuk menemukan jejak-jejak kehidupan. Mulai dari kehidupan sel tunggal, RNA, asam amino, bahkan senyawa dan unsur kehidupan.

Hingga tahun 1977, sebuah penemuan memberikan harapan baru bagi para peneliti di seluruh dunia dengan ditemukannya mikroba yang hidup dalam lingkungan berair yang sangat dingin, sangat asam dan  asin, pada batu dari tambang emas yang digali puluhan mil di bawah tanah, dengan atmosfer yang leih tinggi dibanding permukaan tanah, serta pada lingkungan dengan radioaktivitas tingkat tinggi. Dengan adanya penemuan tersebut, tak hanya ilmuwan dapat sedikit lagi memahami kehidupan di Bumi, tetapi juga menunjukkan bukti yang cukup jelas bahwa kehidupan bisa saja hadir di luar Bumi dalam kondisi yang dulunya dianggap unsurvivable –seperti lautan beku pada salah satu bulan Jupiter, Europa[3].

Apakah kita sendirian di alam semesta ini? [4]
None
Pendaratan Viking di permukaan Mars pada tahun 1976. Image credit: NASA/JPL.

Pertanyaan ini dulunya dianggap skeptis  dan dihubung-hubungkan dengan fenomena alam yang belum kita ketahui atau belum dapat dijelaskan. Bahkan mungkin beberapa dari pembaca dulu juga pernah berpikir “Jangan-jangan ada kembaran Saya di Mars?

Tidak lama setelah NASA didirikan pada tahun 1958, mulai dilakukan usaha berbagai usaha untuk mempelajari dan mencari tahu kehadiran kehidupan -baik kuno dan sekarang ini- di luar Bumi. Menggunakan sumber daya manusia dan bantuan teknologi robot tidak selalu mudah atau dapat diterima, terutama karena tidak ada sampel kehidupan yang sebenarnya yang pernah ditemukan di luar bumi. Namun sekarang mulai terjalin hubungan yang lebih baik antara SDM dan teknologi, sehingga saling terhubung dan tak bisa terpisahkan[3].

Hingga tahun 1976 pendaratan Viking menjadi masa-mas puncak yang paling mendebarkan untuk mengetahui kebenaran banyak prediksi tetang misteri kehidupan di Mars. Dan sayangnya, belum dihasilkan bukti yang menguatkan prediksi-prediksi tersebut. Pendaratan di Mars pada tahun 1990-an dan 2000-an tidak banyak menemukan bukti kehidupan. Memang sebelumnya belum ada target  misi eksplisit Astrobiologi, sampai pada tahun 2012 pendaratan Curiosity dimulai kembali dengan misi Astrobiologi. Dan beruntung banyak hasil pengetahuan mulai ditemukan kembali[3].

Apakah di masa depan akan bisa ada kehidupan di luar Bumi? [4]
Hasil dari  pendaratan Curiosity dengan misi eksplisit Astrobiologi tidak berhasil menentukan apakah Mars kuno dihuni oleh kehidupan mikroba, tetapi telah ditemukan sejumlah petunjuk bahwa beberapa lokasi pendaratan di kawah Gale menunjukkan kondisi yang sangat mampu mendukung adanya kehidupan. Ini adalah identifikasi resmi pertama lingkungan yang dapat dihuni di luar Bumi. Kesimpulan tersebut diperoleh dari hasil penelitian geologi, geokimia, minerologi, sedimentologi, kimia suhu super-tinggi dan fotografi presisi. Temuan ini mendukung teori bahwa dulunya Mars lebih hangat dan lebih basah, meskipun ahli pemodel iklim belum dapat mengetahui bagaimana Mars dulu dengan suhu yang hangat dan atmosfer yang cukup tebal dapat menyimpan air cair dalam kisaran puluhan juta tahun[3].

Astrobiologi terus berkembang dengan pendeteksian binatang kosmik exoplanet dengan slogan “Ikuti di mana air berada! maka di sanalah akan kita temukan adanya kehidupan. Tentunya dengan seperangkat faktor-faktor kehidupan yang tepat seperti atmosfer, karbon dioksida, air, dan senyawa lainnya. Konsentrasi oksigen, ozon dan metana yang tepat menjadi bagian penting pendukung suatu kehidupan[3].

 

Menjadi seorang Astrobiologis
None
Peneliti melakukan uji Endurance pada robot di Danau Bonney, Antarctica. Image credit: NASA/Stone Aerospace

Bidang ilmu Astrobiologi tergolong relatif baru jika dibandingkan dengan bidang lama didirikan astronomi, biologi, fisika, geologi, ilmu planet, dll. Dan pada saat ini, hanya ada sedikit program gelar khusus Astrobiologi. Mahasiswa benar-benar tertarik untuk mengkhususkan diri mengejar studi biasanya mengambil Astrobiologi untuk program pascasarjana sebagai disiplin ilmu tunggal. Anda harus memilih bidang yang benar-benar menjadi passion Anda.

Astrobiologi telah mendapatkan ruang tersendiri oleh masyarakat ilmu Istilah Astrobiologi yang dicetuskan pada tahun 1998 untuk menggantikan frase exobiologi yang sering disalahartikan. Di organisasi besar seperti NASA, kata Astrobiologi telah cepat berkembang dari istilah pemasaran menjadi satu yang menggambarkan bidang interdisipliner yang luas yang terdiri ratusan ahli geologi, astrofisikawan, ahli bioinformatik, ahli biologi molekuler, dan bahkan filsuf. Mereka bersatu di bawah satu tema: mencari asal-usul kehidupan di planet ini dan seterusnya[5].

Banyak sekali dasar keilmuan yang dapat diarahkan pada Astrobiologi. Lewis Dartnell misalnya memilih bidang ini karena kesukaannya pada bidang biologi dan astronomi. Mungkin Astrobiologi menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Anda, seperti “Saya mendalami biologi/fisika/kimia tapi Saya menyukai dan minat Astronomi, bidang khusus apa ya yang cocok untuk Saya?

Memulai berkarir dalam bidang Astrobiologi di Indonesia memang tak semudah mendapatkan bidang kajian populer lainnya. Hal ini dirasa karena masih tergolong disiplin ilmu baru, pusat pembelajarannya sebagai ilmu disiplin tunggal hanya diajarkan di luar negeri, dan tidak banyak informasi yang berkaitan dengan ilmu ini di Indonesia. Mungkin untuk yang berasal dari program Astronomi yang lebih banyak mengetahui tentang infonya, namun bagi mahasiswa yang berasal dari disiplin ilmu lain, misal biologi, kimia, tidak mendapatkan infonya di kelas-kelas reguler. Buku-bukunya pun masih terbatas dalam bahasa asing -hingga artikel ini ditulis. Anda harus lebih banyak meluangkan waktu berselancar di dunia maya untuk mendapatkan infonya.

Salah satu contoh info yang dapat Anda dapatkan misalnya dari komunitas Lingkar Selatan yang telah lama menjadi basis bagi pecinta Astronomi di Indonesia. Berikut beberapa link tentang Astrobiologi yang bisa Anda baca di website mereka, link. Beberapa forum diskusi dan komunitas lain juga dapat Anda ikuti, misalnya Surabaya Astronomy Club (SAC), dll[6].

Sedangkan untuk benar-benar berkarir dalam kancah Astrobiologi, ada baiknya Anda membaca NASA Astrobiologist Career Suggestion.

Pertama, ada baiknya Anda mengenal Astrobiologi. Kecanggihan teknologi pembelajaran tidak menuntut Anda untuk mendaftar menjadi mahasiswa universitas. Beberapa universitas menyediakan kesempatan kursus berikut modul Astrobiologi dengan pembelajaran jarak jauh. Berikut link online courses[1]. Anda juga bisa mengambil program MOOC  (Massive Online Open Courses)[7]. Melalui MOOC Anda bisa mencoba mempelajari dengan gratis, dan bila menginginkan sertifikat dan grade Anda dapat membayarnya berkisar $ 49. Sedangkan untuk studi formal dapat Anda pelajari di beberapa universitas, yang paling primer yaitu di NASA Astrobiology Institute. Serta universitas lain di Eropa, Australia[5].

Terus update informasi karir, pendidikan, pendanaan, dan publikasi melalui Astrobiology magazine dan NASA Astrobiology, dan untuk eksplorasi ruang angkasa secara umum pada website NASA dan ESA[5]. Cobalah terus untuk mencoba program-program gratis seperti NASA summer programs, scholarships, and special programs[1].

Pelajari referensi Astrobiologi, minimal download dan pelajari Astrobiology Primer sebagai dasar referensi dalam Astrobiologi[1].  Beberapa referensi lain yang dapat Anda gunakan sebagai berikut[5].

Bagi mahasiswa pascasarjana, doktoral atau anggota staf yang ingin terus mengembangkan pengetahuannya dapat mengikuti seminar-seminar yang diadakan berbagai organisasi. Berikut organisasi Astrobiologi di beberapa negara[5].

Dan, jika Anda telah siap menerbitkan beberapa hasil penelitian astrobiologi, berikut beberapa spesifik jurnal yang dapat menjadi bidikan Anda[5].

Ada banyak jalan untuk Anda dapat berkarir dalam Astrobiologi. Seperti bidang ilmu lainnya, ada banyak sekali pekerjaan yang tersedia selain penelitian atau kuliah di universitas. Anda dapat bekerja menjadi bagian manajemen dan administrasi proyek yang membantu misi ruang angkasa mendapatkan dana dan mengkoordinasikan konstruksi dan operasi. Sebagai wartawan, jurnalis di media publik uantuk menginformasikan tentang apa yang terjadi di koran, majalah, situs atau buku. Atau berkecimpung dalam kebijakan ilmu pengetahuan dan memastikan pemerintah membuat keputusan baik untuk pengawalan undang-undang, anggaran dana, atau prioritas lainnya.

 

 

Similar Articles

Leave a Reply

Top